Teknologi Hibridoma

    Share
    avatar
    Descartes
    Magician
    Magician

    Join date : 19.10.09

    Teknologi Hibridoma

    Post by Descartes on Sat Feb 13 2010, 16:13

    Perkembangan Teknik Hibridoma
    Agus Sjahrurachman
    Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

    PENDAHULUAN
    Dalam kurun waktu puluhan tahun sejak Metchnikoff dan Erhlich mengemukakan teori imunologi sehingga mendapatkan hadiah Nobel 1908, banyak kemajuan yang telah dicapai baik
    pada imunologi seluler maupun humoral (1).. Sampai tahun 1975 walaupun imunologi khususnya imuno kimia telah cukup maju, antibodi yang digunakan untuk mengikat atau mengenali suatu antigen masih dibuat dengan cara yang konvensional yaitu mengimunisasi hewan percobaan, mengambil darahnya dan mengisolasi antibodi dan serum sehingga menghasilkan antibodi polikional. Dalani antibodi poliktonal jumlah antibodi yang spesifik sangat sedikit, sangat heterogen karena dapat mengikat bermacam-macam epitop dan antigen yang diimunisasikan. Juga pembuatannya, dan awal pemurnian antigen sampai menghilangkan antibodi yang tidak diinginkan sangat memakan waktu dan su1it (2)
    .
    Kohier dan Milstein (1975) memperkenatkan cara baru membuat antibodi dengan mengimunisasi hewan percobaan, kemudian sel limfositnya dihibridisasikan dengan biakan sel tertentu sehingga hibrid dapat dibiakkan terus menerus (immortal) dan membuat antibodi monoklonal(2,3). Antibodi monokional yang dibuat oleh sd hibrid mempunyai sifat tebih baik dan antibodi polikionat karena hanya mengikat 1 epitop serta dapat dibuat dalam jumlah tak terbatas (2). Terobosan teknik hibnidoma yang menghasilkan antibodi monoktonal terhadap antigen, mem-
    buka era baru cara identifikasi dan niemurnikan suatu motekul pada berbagai disiptin ilmu, juga membuka cakrawata dalam prosedur diagnostik dan pengobatan dan pencegahan atternatif
    pada keganasan dan berbagai penyakit lain(4,5,6,7,8)
    .
    PRINSIP PEMBUATAN ANTIBODI MONOKLONAL
    Tujuannya ialah menciptakan sel pembuat antibody homogen yang dapat dibiakkan terus menerus (immortal), melalui :

    1) Fusi sel limpa kebal dan sel mieloma
    Pada kondisi biakanjaringan biasa, sel limpa yang membuat antibodi akan cepat mati sedangkan sel mieloma dapat dibiakkan terus menerus. Fusi sel dapat menciptakan sel hibnd yang membuat antibodi seperti sel timpa dan dapat dibiakkan terus menerus seperti sel mieloma (9,10,11)
    .
    2) Eliminasi sel induk yang tidak fusi
    Frekuensi terjadinya hibrid sel timpa-sel mieloma biasanya rendah, karena itu penting untuk mematikan sel yang tidak fusi yang jumlahnya lebih banyak agar sel hibrid mempunyai kesempatan untuk tumbuh, dengan cara menggunakan:
    (i) Sel mieloma mutan yang mempunyai kelainan (defect) sintesis nukleotida yaitu sel mieloma yang tidak mempunyai enzim timidin kinase (TK) atau hypoxanthine phosphoribosyt transferase (HGPRT) sehingga dalam sintesis nukleotida tidak dapat menggunakan salvage pathway dan
    (ii) Media selektif yang dikembangkan oleh Littlefield, mengandung hypoxanthine, aminopterin dan thymidine (HAT). Aminopteninmenghambatjalan biasa biosintesis purin dan piri- midin sehingga memaksa sel menggunakan salvage pathway. Sel yang tidak fusi karena tidak mempunyai enzim timidin kinase atau hypoxanthine phosphonibosyttransferase akan mati, sedangkan sel hibrid karena mendapatkan enzim tersebut dan sel mamalia yang difusikan dapat menggunakan salvage pathway sehingga tetap hidup dan berkembang (10,12)
    .
    3) Isotasi Mon yang diinginkan
    Sel hibrid dikembang biakkan sedemikian sehingga tiap sel hibrid akan membentuk kotoni sendiri. Tiap koloni kemudian dipelihara terpisah satu sama lain. Hibridoma yang terbentuk di-
    pilih dengan cara mendeteks antibodi yang disekresikan dalam Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 52 medium. Kadarantibodi biasanyacukuptinggi(± 10100 u/ml), sehingga banyak uji serologi yang dapat digunakan tergantung jumlah antigen spesifik yang tersedia, tetapi yang paling sering digunakan adalah radioimmunoassay (RIA) dan enzyme linked immunosorbent assay (EL1SA)(12)
    .
    4) Produksi antibodi monokional spesifik Setelah klon hibridoma yang diinginkan dapat diisoiasi, maka produksi antibodi monokional dapat dilakukan dengan cara :
    (i) in vitro, membiakkan pada medium biakan jaringan dan antibodi dapat dipanen dan supernatan. Kadar pada umumnya 10100 ug/ml supernatan,
    (ii) in vivo, mentranspiantasikan intraperitoneal pada binatang, antibodi dipanen dan cairan asites. Kadar pada umumnya 1-25 mg/ml cairan asites(10,12)
    .
    PERKEMBANGAN TEKNIK HIBRIDOMA
    Sejak diperkenaikan, teknik hibridoma telah banyak mengalami perkembangan untuk mendapatkan klon secara efisien dan hibridoma yang hidup secara maksima(13). Sejalan dengan
    tujuan maka pengembangan timbul pada cara-cara:

    1) Imunisasi
    Hibridoma merupakan hasii fusi 2 sei yaitu sd mieioma dan sel B penghasii antibodi. Karena itu supaya memperbanyak sel B spesifik terhadap antigen yang diinginkan penting supaya populasi sel B pesifik jumlahnya lebih banyak sehingga hasil fusi mencapai maksimal. Banyaknya sel B spesifik dipengaruhi antigen baik caranya stimuiasi maupun sifat dan antigen sendiri, Sehingga untuk memperbanyak sel B spesifik, dilakukan berbagai cara imunisasi, yaitu:

    (i) Konvensional
    Cara ini sebenarnya sama dengan cara imunisasi untuk membuat antibodi poiikional. Antigen berupa protein atau polisakanida dalam volume yang sama diemulsikan dengan complete
    Freuncfs adjuvant, bila antigen seluier dibuat tanpa ajuvan. Antigen disuntikkan subkutan pada beberapa tempat atau intraperitoneai, setelah 23 minggu disusul suntikan antigen tanpa ajuvan secara intravena sekali atau beberapa kaii. Mencit dengan tanggap kebal terbaik dipilih, 12 hari setelah suntikan terakhir mencit dibunuh dan diambil sel limpanya(11,12). Cara ini dianggap
    cukup baik dan secara umum banyak dipakai, walaupun di- pengaruhi sifat antigen berupa imunogen kuat atau lemah serta tanggap kebal binatang yang berbeda-beda. Bila informasi antigen yang iengkap tidak bisa didapatkan cara imunisasi ini terbukti memberi hasil cukup baik(11)
    ..
    (ii) Imunisasi sekali suntik intralimpa (Single-shot intrasplenic immunization)
    Pada imunisasi konvensional, antigen dipengaruhi ber- macam-macam faktor. Bila disuntikkan ke dalam darah sebagian besar akan dibuang secaraaiami, sedangkan melalui kulit akan tersaring kelenjar limfe regional, makrofag dan sel retikuler. Hanya sebagian kecii antigen yang terlibat daiam proses tanggap kebal. Pada hibridoma yang diperlukan adalah sel limpa, karena itu untuk mencegah eiimin antigen oleh bagian lain dari tubuh dilakukan suntikan imunisasi langsung pada limpa dan ternyatahasilnya lebih baik dan cara konvensional(14). Selain memberikan hasil klon spesifik yang lebih banyak, imunisasi intraiimpa ini memberi keuntungan yang lain :
    (1) Pemakaian antigen yang sangat hemat, misalnya untuk imunisasi dengan 1gM manusia
    hanya diperiukan 20 ug, sedangkan untuk antigen berupa sel hanya diperlukan 200.000 sel, sehingga dapat dibuat hibridoma dan antigen yang terbatas jumiahnya. Karena hampir semua binatang percobaan membeni tanggap kebal yang baik, tidak diperiukan binatang dalam jumlah yang besar(14).
    (2) Fusi dapat
    dilakukan dalam waktu 3 hari seteiah imunisasi(14)
    .
    (iii) Imunisasi in vitro
    Tidak ditemukannya antibodi monokional spesifik sering karena kegagalan stimulasi limfosit B pada imunisasi in vivo. ini mungkin disebabkan toleransi atau adanya antigen hierarchy response (reaksi tanggap kebai hanya terhadap beberapa komponen antigen). Sering terjadi setelah imunisasi dengan antigen yang Iemah, wataupun titer antibodinya tinggi ternyata gagal mendapatkan hibridoma spesifik karena rendahnya jumtah sel B spesifik dalam limpa, maka untuk mengatasinya dilakukan imunisasi in vitro(15). Pada prinsipnya sel timpa belum imun
    ditambah antigen dan TCM (thymocyte culture-conditioned medium) yaitu medium biakan sel thymus setelah inkubasi 48 jam. Antigen dapat benupa antigen tertarut sebanyak 301000 ug
    atau sel yang difiksasi aikohol atau yang diradiasi 4500 rad dengan Cesium radioaktif. Setelah diinkubasikan 37°C selama 5 hari akan banyak dijumpai sel blast yang besar dan pada keadaan ini sel siap untuk dilakukan fusi(15)
    .
    Sebagai contoh kebenhasiian imunisasi in vitro : melalui imunisasi in vitro dengan 107 sel acute myeloid leukemia (AML) yang difiksasi alkohol, 31 dan 96 sumur biakan menghasilkan
    hibridoma spesifik dan antibodi dan 6 dari klon ternyata sangat spesifik karena tidak beneaksi dengan sel darah penifer maupun sel sumsum tuiang. Hasil ini berbeda bila dibandingkan melalui
    imunisasi in vivo, antibodi yang dihasiikan sebagian besar bereaksi dengan major histocompatibility antigen atau major rnyeloid differentiation antigen yang merupakan bagian terbanyak dari permukaan sel(15)
    .
    Perkembangan selanjutnya merupakan penyederhanaan kon-disi imunisasi in vitro yaitu menggunakan medium yang biasa untuk biakan jaringan yaltu RPMI (Roswell Park Memorial Institute) atau DMEM (Dulbeco `s Mod Eagle's Medium) dan ajuvan peptida yang mudah didapat, N-acetytmuramyl-L-alanyi-D-isoglutamine. Cara ini terbukti telah meningkatkan jumlah hibridoma pembuat antibodi sertajumlah hibridoma yang dapat bertahan hidup. Pada pninsipnya cara ini sama dengan di atas, yaitu sel limpa beium imun ditambah antigen dan 20 ug Nacetylmuramyi-L-alanyi-D-iso- glutamine, diinkubasikan 37°C dengan 5% CO2 95% udara setama 4 hari(16). Berhasilnya imunisasi in vitro ini telah membuka petuang dilakukannya stimulasi in vitro sel B manusia, karena imunisasi in vivo tidak dapat dijaiankan karena dibatasi etika, yang seianjutnya diikuti fusi dengan sel mieloma manusia atau transformasi dengan virus
    Epstein-Barr sehingga dapat dibuat antibodi monoktonat manusia(16)
    .
    2) Pilihan sel mieloma

    Yang rnenjadi pertimbangan dalam memilih sel mieloma, adalah:
    a) Spesies
    Sd mieloma yang berasal dari spesies yang sama dengan binatang yang diimunisasi akan mengurangi segregasi kromosom pasca fusi. Contoh yang ekstrim ialah hibridoma sel mieloma mencit dengan sel limpa manusia,kromosom sel manusia dengan cepat mengalami segregasi sehingga hasil hibrid menjadi tidak stabi1(11,17). Dalam perkembangannya, pemilihan sel mieloma yang berbeda spesies dapat dilakukan terutama untuk tujuan tertentu. Hibrid sel mencit dengan tikus telah dibuat dan berhasil baik, tetapi perbedaan spesies yang terlalu jauh dikatakan tidak produktif(18)
    .
    Walaupun pembuatan antibodi monokional mencitdan tikus sudah berhasil baik, gunanya secara klinis sangat terbatas karena tetap merupakan protein asing untuk manusia. Karena itu dikembangkan hibrid manusia dengan mengembangkan sel mieloma manusia yang sensitif terhadap hypoxanthinc-aminopterin-thymidine. Tim dari Stanford University telah berhasil membuat galur sel mieloma tersebut yaitu U-266 AR1 dengan nomor registrasi SKO-007. Sayangnya galur ini masih membuat sendiri IgE(19)
    .
    b) Sintesis imunoglobulin
    Sel hibridoma mengekspresikan rantai imunoglobulin secara codominant, sehingga imunoglobulin dan sel mieloma akan diekspresikan bersama imunoglobulin dan sel limpa dengan
    kombinasi secara acak(19). Sebagai contoh, bila sel mieloma membentuk rantai berat dan rantai ringan imunoglobulin, seperti juga halnya dengan sel limpa, maka imunoglobulin dan sel hibrid
    merupakan kombinasi acak dari ke-4 rantai dan antibodi spesifik hanya terdapat 1/16 dari seluruh imunoglobutin yang terbentuk(20). Karena itu pengembangan diarahkan untuk membuat sel
    mieloma yang tidak membuat rantai imunoglobulin tetapi tetap dapat fusi dengan baik. Gatur sel mieloma mencit SP2/O-Ag14 yang merupakan hasil reclone SP2/HI-Ag adalah sel mieloma pertama yang tidak membentuk rantai imunogtobutin(20). Ber-
    bagai jenis mieloma dapat dilihat pada Tabel 1.
    Tabel 1. Galur sel mieloma
    Galur Spesies asal Produksi Ig
    P3-x63-Ag8 Mencit IgG I
    P3-NSI/I-A4-I Mencit Kappa
    P3-x63-Ag8.653 Mencit
    SP2/O-Ag 14
    Mencit
    FO Mencit
    Fl0-RCY3-Agl Tikus Kappa
    Sumber 18.

    3) Medium biakan
    Medium biakan umumnya DMEM atau RPMI 1640 dengan tambahan fetal calfserum (FCS) dan aditif lainnya. Yang menjadi masalah adalah FCS harganya mahal, sutit didapat dan kuali-
    tasnya sangat bervariasi tergantung sumbernya bahkan juga bervariasi untuk tiap batch. Penambahan FCS sangat penting, bahkan pada waktu fusi, seleksi dan cloning kadar FCS dalam
    medium sering dinaikkan. Dipilih FCS karena kandungan imunogtobulinnya rendah sehingga tidak mempengaruhi assay serta sangat mendukung tumbuh dan kembang biak sel(11)
    .
    Usaha pengembangan dilakukan untuk mendapatkan medium tanpa serum karena memberi keuntungan:
    •memungkinkan penetitian yang tak memperbotehkan adanya protein serum atau bahan-bahan dan serum misatnya hormon, antibodi.
    •ekonomis, terutama untuk menumbuhkan sel dalam skala besar.
    •mempermudah pemurnian antibodi monokional, bahkan pada beberapa keadaan, antibodi monokional dapat langsung digunakan tanpa pemurnian(21).Salah satu dari medium tanpa
    serum adalah Serum-free KSLM medium yang menggunakan medium dasar RPMI 1640 + DMEM + Hams F-12 medium dengan perbandingan 2: 1: 1, ditambah insulin, 2-amino etanol,
    2-merkaptoetanot, natrium selenit, LDL manusia, asam oleat dalam kompleks dengan albumin serum sapi (BSA)(22). Serum- free KSLM medium terbukti sama baiknya untuk menumbuhkan sel mieloma NS- 1 dan sel hibnidoma (Tabet 2), dibandingkan medium dengan 10% FCS. Harus menjadi perhatian bahwa tidak semuajenis sel mieloma atau hibridoma cocok dengan medium tanpa serum(21)
    .
    Tabel 2. Hasil fusi mieloma dan sel limpa dalam medium KSLM dan Medium dasar + FCS
    Induk mieloma Kondisi % Sumur (+) Ab terhadap A431
    Koloni/sumur % sumur (+)
    NS-I KSLM 54
    NS-I-503 KSLM KSLM + FCS 10% 51 12 25
    NS-1-503 MD+FCS 85 12 33
    NS-I 10%n 75 510 57
    5 10 60


    Keterangan :
    KSLM = medium tanpa serum
    MD = medium dasar
    N 1-503 = varian dan sel NS-1 yang telah diadaptasikan pada medium tanpa lipid.

    4) Fusi sel
    Fusi sel diawali dengan fusi membran plasma sehingga menghasitkan sel besar dengan dua atau lebih inti yang berasal dari kedua induk sel yang berbedajenis, disebut heterokaryon, pada waktu tumbuh dan membelah diri terbentuk 1 inti yang me- ngandung knomosom kedua induk disebut sebagai sel hybrid(17)
    .
    Frekuensi fusi dipengaruhi bermacammacam faktor:
    jenis medium.
    perbandingan jumtah sel timpa dengan sel mieloma.
    jenis sel mieloma yang digunakan.
    bahan yang mendorong timbulnya fusi (fusogen), misainya polyethylene glycol(23)
    .
    Secara garis besar fusogen dibagi menjadi 2 kategori:
    Virus berselubung. Yang sering digunakan adalah virus Sendai(17,24)
    . Reagensia tipofitik atau tipolitik, misal lysole cithin dan polyethylene g1ycol(17)
    .
    Pada awal penelitiannya Kohier dan Milstein menggunakan virus Sendai yang inaktif sebagai fusogen(3), tetapi karena sulit menyiapkannya, efisiensinya sangat bervariasi dan hanya men-
    dorong fusi pada beberapa jenis sel saja, maka fusogen diganti dengan polyethylene glycol yang lebih mudah didapat dan dapat mendorong fusi pada sel dengan jenis yang lebih luas(17). Pengembangan fusi sel banyak diarahkan untuk menaikkan efisiensi fusi yang dianggap masih rendah, antara lain dengan cara:
    •mengembangkan fusogen
    Polyethyleneglycol (PEG) secara luas sudah digunakan sebagai fusogen, biasanya dengan berat molekul 10006000, konsentrasi 50%. Penambahan PEG dengan DMSO (dimethylsulphoxide) ternyata dapat menaikkan efisiensi fusi(17)
    •mengembangkan teknik fusi lain,yaitu menggunakan medan listrik pada limfoblas(25)
    .



    5) Penumbuhan hibndoma
    Berdasarkan pengamatan Fazekas de St Groth dan Schei- degger, penumbuhan hibrid pasca fusi yang dilakukan dengan feeder cell (sel limpa tidak imun) memberi hasil yang lebih konstan dibanding tanpa feeder cell(18). Sebagai feeder system dapat digunakan sel limpa tidak imun, thymocyte, makrofag peritoneum, fibroblas manusia yang telah diradiasi(18), lipopolisakarida (LPS), supernatan makrofag, supernatan biakan endotel manusia dan serum darah tali pusat manusia(13). Dalam feeder system terdapat faktor pendorong penumbuhan sel, sebagai contoh:
    •mitogen lipopolisakarida (LPS), efeknya diperkuat dengan penambahan dextran sufat.
    •supernatan makrofag mengandung monokin (interleukin-1) menimbulkan aktivasi limfosit.
    •supernatan biakan endotel pembuluh darah manusia dapat mendorong proliferasi dan diferensiasi hibridoma sel B, faktor mitogennya sampai sekarang betum diketahui. Demikian juga dengan serum tali pusat manusia yang sampai saat ini belum diketahui faktor yang mendorong tumbuhnya hibridoma(13)
    . Penambahan feeder system terbukti menaikkan frekuensi sel limpa pembentuk klon dan frekuensi terbentuknya klon yang membuat antibodi setelah fusi (Tabel 3)(13)
    .
    Tibet 3. Efek berbagai Feeder system pada hibridoma
    Stimulator Jumlah sumur biakan (jumlah fusi) % jumlah biakan membentuk klon Sumur dengan klon Klon Ab (+)
    Frekuensi % jumlah Frekuensi
    sel biakan set
    limps membentuk limps
    klon
    CS 384 4 65 1.05 12 1.3
    LPS + D x S 384 4 99 4.61 33 4.0
    p. Makrofag 384 (4) 98 3.91 42 5.4
    S 288 3 99 4.61 34 4.2
    CA 384 4 99 4.61 33 4.0

    Keterangan :
    FCS = fetal ca/f serum
    LPS + D x S = lipopolisakaridu + dextran cu/fat
    HECS = supernatan biakan endotel, manusia
    HUCA = serum darah tali pusat manusia

    KESIMPULAN
    Hibridoma merupakan fusi sel limfosit B dengan sel mieloma, yang dapat dibiakkan terus menerus. Karena hibridoma sel limfosit B tetap mempertahankan ekspresi gen imunoglobulin maka dimanfaatkan untuk membuat antibodi monoklonal. Frekuensi timbulnya hibrid setelah fusi sangat rendah, karena itu pengembangannya banyak diarahkan untuk menaikkan frekuensi
    fusi dan mendapatkan klon hidup secara maksimal. Cara imunisasi konvensional memberi hasil cukup baik, tetapi cara imunisasi sekali suntik intratimpa dan in vitro memberi hasil lebih baik, lebih hemat antigen serta waktunya lebih singkat, bahkan imunisasi in vitro membuka peluang dilakukannya imunisasi limfosit B manusia, dimana imunisasi in vivo tidak dapat dilakukan karena dibatasi etika. Pilihan sel mieloma makin beragam, baik spesies (mencit, tikus, manusia) maupun sifatnya, makin ideal untuk membuat antibodi monokional dengan dikembangkannya galur sel mieloma yang tidak membentuk rantai imunogtobulin. Medium dasar
    ditambah FCS (fetal calf serum) secara umum cukup baik, tetapi FCS merupakan hambatan karena harganya mahal, sulit didapatkan serta hasilnya bervariasi. Karana itu dikembangkan
    medium tanpa serum sehingga penelitian yang perlu keadaan tanpa serum dapat dilakukan dan biaya pemeliharaan sd dalam skala besar akan lebih murah. Untuk mendorong timbulnya fusi sel banyak digunakan polyethyleneglycol (PEG) yang mudah didapat dan cukup efektif. Pengembangan dilakukan untuk memperbaiki frekuensi fusi dengan menambahkan DMSO bersama PEG dan penggunaan medan listnik. Penambahan bermacam-macam feeder system, terbukti dapat mendorong penumbuhan hibridoma.

    KEPUSTAKAAN
    1. Abba.s AK, Lichtman AH, Parker IS. (eds). Cellular and Molecular Immu- nology. New York: WB. Saunders Co. 1991.
    2. Mason DY. Cordell JL, Pulford KAF. Production of Monoclonal Antibodies forlmmunocytochemical Use. Dalam Techniques in Immunochemistry. ed. W.R. Bullock, Vol. 2. London: Academic Press 1983: hal. 175.-I 80.
    3. KohlerG. Milstein C. Continuous cultures of fused cells secreting antibody
    of predifined specifity. Nature 1975; 256: 49597.
    4. Di VT. Morrison SL. Chimeric antibodies. Biotechniques. 1986: 4(3):
    21720.
    5. Cotton RGH. Milstein C. Fusion of Two Immunoglobulin-producing
    Myeloma cells. Nature 1973: 244: 423.
    6. WinterG. Harris WI. Humanized antibodies. Immunology Today 1993: 14:
    24346.
    7. Waldman H, Colbold S. The use of monoclonal antibodies to achieve
    immunological tolerance. Immunology Today 1993: 14: 2475 I.
    8. Vitetta ES. Thorpe PE, UhrJW. Immunotoxins: Magic bullets or misguided
    missiles. Immunology Today 1993: 14: 25259.
    9. Harlow E. Lane ED. (eds). Antibodies A Laboratory Manual. New York:
    Cold Spring Harbor PubI. 1988; hal 139281.
    10. Cuello AC. Milstein C. Galfre G. Preparation and Application of Mono-
    clonal Antibodies for Immunohistochemistry and Immunocytochemistry.
    Dalam Methods in the Neurosciences. IBRO handbook series. 1983: Vol.
    2. hal. 215223.
    11. Galfie G Milstein C. Preparation of Monoclonal Antibodies : Strategies
    and Procedures. Paper presented at WHO training course. Singapore. 1981.
    12. Kearney IF. Hybridomas and Monoclonal Antibodies. Dalam Fundamental
    Immunology. ed. W.E. Paul. New York: Raven Press. 4th ed. 1986: hal
    Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 55

    751754.
    1980; 44: 542931.
    13. Westerwoudt Ri. Factors Affecting Production of Monoclonal Antibodies.
    Dalam Methods in Enzymology, ed. J.J. Lanone, H.V. Vunakis, Vol. 121.
    Orlando: Academic Press. 1986; hal. 318.
    20. Shulman M, Wilde CD, Kohler. A better cell line for making hybridomas
    secreting specific antibodies. Nature. 1978; 276: 26970.
    21. Kovar J, Franek F. Serum-Free Medium for Hybridoma and Parental
    Myeloma Cell Cultivation. Dalam Methods in Enzymology,ed. J.J. Lanone,
    H.V. Vunakis, Vol. 121. Orlando: Academic Press. 1986; hal. 27792.
    14. Spitz M. "Single-Shot" Intrasplenic Immunization for the Production of
    Monoclonal Antibodies. Dalam Methods in Enzyrnology, ed. J.i. Lanonø,
    H.V. Vunakis, Vol. 121. Orlando: Academic Press. 1986; hal. 3341.
    22. Kawamoto T, Sato JD, McClure DB, SatoGH. Serum-Free Medium for the
    Growth of NS-1 Mouse Myeloma Cells and the Isolation of NS- I Hybrid-
    omas. Dalam Methods in Enzymology, ed. J.J. Lanone, H.V. Vunakis, Vol.
    121. Orlando: Academic Press. 1986; hal. 266277.
    15. Reading CL. In Vitro Immunization for the Production of Antigen-Specific
    Lymphocyte Hybridomas. Dalam Methods in Enzymology,ed. J.J. Lanone,
    H.V. Vunakis, Vol. 121. Orlando: Academic Press. 1986; hal. 1927.
    16. Boss BD. An Improved In Vitro Immunization Procedure for the Pro-
    duction of Monoclonal Antibodies. Dalam Methods in Enzymology, ed.
    J.J. Lanone, H.V. Vunakis, Vol. 121. Orlando: Academic Press. 1986; hal.
    2733.
    23. Mourik PV, Zeijiemaker WP. Improved Hybridoma Technology: Spleen
    Cell Separation and Soluble Growth Factors. Dalam Methods in Enzymo-
    logy, ed. J.J. Lanone, H.V. Vunakis, Vol. 121. Orlando: Academic Press.
    1986; hal. 174175.
    17. Kennett RH. Cell fusion. Dalam Methods in Enzymology. ed. W.B. Jakoby.
    Vol. LVIII. Orlando: Academic Press. 1979; hal. 34559.
    24. Joklik WK, Willett HP, Amos DB. Zinsser Microbiology. New York:
    Appleton-Century-Croft 18th. ed. 1984; hal. 895896.
    18. Hurrel JGR. Monoclonal Hybridoma Antibodies : Techniques and Appli-
    cations. Boca Raton: CRC Press Inc. 1985; 429.
    25. Lane RD, Crissman RS, Ginn S. High Efficiency Fusion Procedure for
    Producing Monoclonal Antibodies against Weak Immunogen. Dalam
    Methods in Enzymology, ed. i.J. Lanone, H.V. Vunakis, Vol. 121.
    Orlando: Academic Press. 1986; hal. 183184.
    19. Olsson L, Kaplan HS. Human-human hybridomas producing monoctonal
    antibodies of predefined antigenic specificity. Proc. Natl. Acad. Sci. USA.
    Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
    56
    avatar
    JusT4FuN
    Necromancer
    Necromancer

    Join date : 29.03.09
    Age : 24
    Lokasi : Ocean NeT

    Re: Teknologi Hibridoma

    Post by JusT4FuN on Sat Feb 13 2010, 20:24

    Periode bioteknologi modern ( abad ke-20 M sampai sekarang)
    Periode ini diawali dengan penemuan teknik rekayasa genetik pada tahun 1970-an. Era rekayasa genetik dimulai dengan penemuan enzim endonuklease restiksi oleh Dussoix dan Boyer. Dengan adanya enzim tersebut memungkinkan kita dapat memotong ADN pada posisi tertentu, mengisolasi gen dari kromosom suatu organisme, dan menyisipkan potongan ADN lain ( dikenal dengan teknik ADN rekombinan). Setelah penemuan enzim endonuklease restriksi, dilanjutkan dengan program bahan bakar alkohol dari brazil, teknologi hibridoma yang menghasilkan antibodi monoklonal (1976), diberikannya izin untuk memasarkan produk jamur yang dapat dikonsumsi manusia kepada Rank Hovis Mc. Dougall (1980). Peran teknologi rekayasa genetik pada era ini semakin terasa dengan diizinkannya penggunaan insulin hasil percobaan rekayasa genetik untuk pengobatan penyakit diabetes di Amerika Serikat pada tahun 1982. insulin buatan tersebut diproduksi oleh perusahaan Eli Lilly dan Company. Hingga saat ini, penelitian dan penemuan yang berhubungan dengan rekayasa genetik terus dilakukan. Misalnya dihasilkan organisme transgenik penelitian genom makhluk hidup.
    avatar
    Descartes
    Magician
    Magician

    Join date : 19.10.09

    Re: Teknologi Hibridoma

    Post by Descartes on Sun Feb 14 2010, 13:38

    Oi, yang aku post itu nak ditambahke dak di ppt?

    Sponsored content

    Re: Teknologi Hibridoma

    Post by Sponsored content


      Waktu sekarang Fri Jul 21 2017, 07:37